Minggu, 15 April 2012

Berbagai Pandangan Tentang Manusia dan Implikasinya Terhadap Pendidikan

Berbagai Pandangan Tentang Manusia
dan Implikasinya Terhadap Pendidikan
A. Pendahuluan
Manusia adalah makhluk Allah yang diciptakan dalam sebaik-baik bentuk. Pada diri manusia dilengkapi dengan akal dan nafsu. Di sinilah keistimewaan manusia dibanding dengan makhluk lainnya. Manusia dengan dua bekal tersebut diamanahkan untuk mengelola bumi Allah ini. Di satu sisi ini adalah tantangan yang berat bagi manusia sekaligus sebagai tugas mulia.
Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Dengan hal ini manusia punnya potensi untuk dapat didik dan mendidik. Hannya dengan pendidikanlah manusia dapat mengolah alam ini. Juga dengan pembinaan terus meneruslah manusia bisa mencapai kepribadian yang mulia. Manusia dengan potensi yang ada mesti bisa mengambil peran dalam kehidupan ini. Manusia tinggal di alam. Berbagai perubahan alampun membawa pengaruh pada manusia. Kemampuan akal untuk berpikir menghasilkan berbagai karya yang bermanfaat dalam kehidupan manusia. Dengan dinamisnya kehidupan, manusiapun bertambah maju peradabannya.
Ahli filsafat Yunani menyebut manusia sebagai makhluk sosial. Ada juga ahli filsafat yang mengungkapkan manusia sebagai hewan yang berbicara. Al-Qur’anpun menyebut manusia dengan al-Basyar, al-Insan, Annas, dan Annafs. Berbagai penyebutan terhadap manusia tersebut menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang unik. Pembahasan terhadap manusia tiada akan terhenti. Hal ini mengindikasikan bahwa manusia adalah makhluk Allah yang diciptakan dalam sebaik-baik bentuk. Sejarah pendidikan manusia tidak terlepas dari kajian berikut: mulai dari tradisi pemikiran dan para pemikir besar dalam pendidikan, tradisi nasional, sistem pendidikan beserta komponen-komponennya, sampai pada pendidikan dalam hubungannya dengan sejumlah elemen problematis dalam perubahan sosial atau kestabilan, termasuk keagamaan, ilmu pengetahuan (sains), ekonomi, dan gerakan-gerakan sosial. Sehubungan dengan itu semua sejarah pendidikan erat kaitannya dengan sejarah intelektual dan sejarah sosial.
Wadah untuk mengoptimalkan potensi manusia hannyalah dengan pendidikan. Untuk mewujudkan pendidikan yang baik, sebaiknya dipahami benar berbagai landasan filosofis pendidikan. Manusia makhluk yang unik, mesti dilihat dari berbagai segi dan sudut pandang. Dengan memahami berbagai pandangan terhadap manusia yang menjadi landasan filosofis pendidikan, akan menjadikan pendidikan tersebut berjalan dengan baik dan tepat sasaran. Dalam makalah ini akan dibahas berbagai pandangan tentang manusia dan implikasinya terhadap pendidikan.

B. Pandangan Anthropologi dan Implikasinya Terhadap Pendidikan
1. Pengertian Anthropologi
Anthropologi artinya ilmu tentang manusia, khususnya tentang asal-usul, aneka warna bentuk fisik, adat istiadat, dan kepercayaanya pada masa lampau. Menurut Beals sebagaimana yang dikutip oleh Redja Mudyahardjo, anthropologi adalah studi tentang asal-usul, perkembangan, karakteristik jenis (spesies) manusia atau studi tentang ras manusia. Antropologi ilmiah mencakup: antropologi biologis, antropologi sosial budaya, arkeologi dan linguistic.
Antropologi adalah suatu ilmu yang memahami sifat-sifat semua jenis manusia secara lebih komprehensif. Antropologi pertama kali dipergunakan oleh kaum Misionaris dalam rangka penyebaran agama Nasrani dan bersamaan dengan itu pula berlangsung sistem penjajahan terhadap negar-negara diluar Eropa. Pada era dewasa ini, antropologi dipergunakan sebagai suatu hal untuk kepentingan kemanusiaan yang lebih luas. Studi antropologi selain untuk kepentingan pengembangan ilmu itu sendiri, di negara-negara yang masuk dalam kategori Negara ketiga (Negara berkembang) sangat urgen sebagai “pisau analisis” untuk pengambilan kebijakan (policy) dalam rangka pembangunan dan pengembangan masyarakat.
Dari pengertian antropologi tersebut dapat dipahami, bahwa manusia dalam pandangan antropologi merupakan makhluk yang berbudaya dan punnya karya. Buktinya adalah terbaginya manusia pada berbagai suku bangsa, bahasa, ras dan berbagai aliran kepercayaan. Keragaman tersebut mesti disikapi dengan bijak, apalagi di dalam penyusunan program pendidikan serta pelaksanaannya.
1) Antropologi biologis/fisik
Antropologi biologi sering pula disebut antropologi fisik, yaitu studi tentang fosil dan kehidupan manusia sebagai organisme biologis. Dalam pandangan antropologi biologi, manusia mempunyai karakteristik sebagai Homo Sapiens dengan cirri khasnya:
1. Berjalan tegak
2. Mempunyai otak yang besar dan kompleks.
3. Hewan yang tergeneralisasi, dapat hidup dalam berbagai lingkungan.
4. Periode kehamilan yang panjang dan anak lahir tidak berdaya.
Implikasi dalam Praktek Pendidikan
Konsep-konsep antropologi biologis menjadi landasan pendidikan, yaitu:
1. Keharusan dan kemungkinan Pendidikan
2. Keragaman praktek pendidikan, baik dalam sejarah manusia maupun dalam bentuk praktek pendidikan dalam suatu zaman.
3. Dalam hubungannnya dengan pengembangan teori pendidikan telah lahirnya ilmu antropologi pendidikan.
2. Antropologi Budaya
Dalam pandangan antropologi budaya, terdapat tiga karakteristik manusia, yaitu:
1) Manusia adalah organisme sosiobudaya
Budaya dalam kamus besar Bahasa Indonesia adalah pikiran, akal, budi. Dapat juga diartikan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah. Budaya juga diartikan seperangkat cara hidup (berpikir dan berbuat) yang diperoleh melalui proses belajar, yang memberi ciri pada setiap keputusan kelompok.
2) Komponen utama budaya
a. Sebuah kelompok / masyarakat
b. Sebuah lingkungan dalam kelompok/ masyarakat
c. Sebuah budaya material
d. Sebuah tradisi budaya
e. Kegiatan-kegiatan dan perilaku manusia
Implikasi dalam Praktek Pendidikan
1. Keharusan dan kemungkinan pendidikan
2. Keragaman kegiatan pendidikan
3. Pendidikan adalah proses pemindahan budaya dari generasi ke generasi.
Implikasi dalam pengembangan teori pendidikan
1. Lahir dan berkembangnya antropologi pendidikan yang dipelopori oleh Frans Boa Margareth Mead
2. Adanya kebutuhan Antropologi Filsafat anak ( pandangan tentang hakekat khuluk atau karakteristik anak).
Dapat disimpulkan bahwa pendidikan bersifat dinamis. Setiap perkembangan kehidupan manusia diwarnai dengan pendidikan yang mereka tempuh. Naik turunnya budaya dan peradaban suatu bangsa menjadi pertanda bahwa praktek pendidikan terlaksana dengan baik. Kondisi pendidikan suatu masa tidak dapat disamakan dengan kondisi pendidikan zaman lainnya. Pendidikan harus mengakomodir kebutuhan masyarakat dizamannya.
C. Pandangan Ekonomi dan Implikasinya Terhadap Pendidikan
1. Pengertian Ekonomi
Ekonomi adalah ilmu mengenai asas-asas produksi, distribusi, dan pemakaian barang-barang serta kekayaan. Ekonomi adalah studi tentang upaya manusia memperoleh kemakmuran materil manusia. Pada zaman pasca modern atau globalisasi sekarang ini, yang sebagian besar manusia cenderung mengutamakan kesejahteraan materi dibanding kesejahteraan rohani, membuat ekonomi mendapat perhatian yang sangat besar. Kecenderungan ini dipengaruhi oleh perkembangan budaya, terutama dalam bidang tekhnologi, kesenian dan pariwisata. Jadi kegiatan ekonomi tersebut meliputi konsumsi, produksi, distribusi dan pertumbuhan sepanjang waktu.
2. Peran Ekonomi dalam Pendidikan
Dewasa ini perkembangan ekonomi makro berpengaruh pula dalam bidang pendidikan. Cukup banyak orang kaya sudah mau secara sukarela menjadi bapak angkat agar anak-anak dari orang tidak mampu bisa sekolah. Kemudian terjalin kerjasama antara sekolah dengan pihak usahawan dalam proses belajar mengajar para siswa, adalah berkat kesadaran para pemimpin perusahaan atau industri akan pentingnya. Kesadaran inipun muncul sebagian karena usaha mereka berhasil dan member keuntungan lebih banyak.
Dampak lain dari keberhasilan pembangunan ekonomi secara makro adalah munculnya sejumlah sekolah unggul. Sekolah-sekolah ini didirikan oleh orang-orang kaya atau konglomerat. Sekolah ini lebih unggul dalam prasarana dan sarana pendidikan, lebih unggul dalam menggaji pendidik-pendidiknya. Program belajarnya lebih beragam atau lebih kaya dan mungkin proses belajarnya juga lebih baik.
Sekolah –sekolah di Indonesia sebagian besar masih lemah ekonominya. Memang hampir semuanya sudah punnya gedung, tetapi perlengkapan belajarnya masih minim. Juga kesejahteraan guru atau dosennya belum memadai. Sehingga sebagian guru terpaksa mencari penghasilan tambahan. Sehubungan dengan ini membawa akibat pada tidak penuhnya pengabdian guru dalam proses pembelajaran yang berakibat pada tidak tercapainya output yang diharapkan. Keterbatasan dana tersebut mestinya menjadi pertimbangan bagi pemerintah untuk membantunya. Kemudian diharapkan juga pihak konglomerat untuk membantu secara kontinyu terhadap lembaga-lembaga pendidikan.
Fungsi ekonomi dalam dunia pendidikan adalah untuk menunjang kelancaran proses pendidikan. Bukan merupakan modal untuk dikembangkan, bukan untuk mendapatkan keuntungan. Dengan demikian kegunaan ekonomi dalam pendidikan terbatas dalam hal-hal berikut:
1. Untuk membeli keperluan pendidikan yang tidak dapat dibuat sendiri atau bersama para siswa, orang tua, masyarakat, atau yang tidak bisa dipinjam dan ditemukan di lapangan, seperti:
1)Prasarana
2) Sarana
3) Media
4) Alat peraga
5) Barang habis pakai
6) Materi pelajaran
2. Membiayai segala perlengkapan gedung seperti air, listrik, telepon, televise dan radio
3. Membayar jasa segala kegiatan pendidikan seperti pertemuan-pertemuan, perayaan-perayaan, panitia-panitia, darmawisata, pertemuan ilmiah dan sebagainya.
4. Untuk materi pelajaran pendidikan ekonomi sederhana, agar bisa mengembangkan individu yang berprilaku ekonomi. Seperti:
1) Hidup hemat
2) Bersikap efesien
3) Memiliki keterempilan produktif
4) Memiliki etos kerja
5) Mengerti prinsip-prinsip ekonomi
6) Meningkat motivasi kerja
3. Implikasi ekonomi dalam praktek pendidikan
1) Konsep-konsep ekonomi menjadi dasar atau landasan pendidikan
2) Kondisi ekonomi mempengaruhi kemampuan dan kegiatan pendidkan
3) Pendidikan merupakan penanaman modal dalam sumber daya manusia ditinjau dari ekonomi makro.
4) Pendidikan merupakan profesionalisasi, ditinjau dari ekonomi mikro.
4. Implikasi dalam Pengembangan Teori Pendidikan
1) Lahir dan berkembangnya ekonomi pendidikan
2) Lahir dan berkembangnya studi pendidikan dan pembangunan

D. Pandangan Sosiologi dan Implikasinya Terhadap Pendidikan
1. Pengertian Sosiologi
Sosiologi adalah pengetahuan atau ilmu tentang sifat, perilaku, dan perkembangan masyarakat; ilmu tentang struktur social, proses sosial, dan perubahannya. Sosiologi juga diartikan sebagai sebuah ilmu kemasyarakatan atau ilmu masyarakat yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan antara manusia bersama dengan sesamanya dalam masyarakat.
Dalam kaitannya dengan pendidikan dikenal istilah sosiologi pendidikan, yaitu ilmu yang berusaha untuk mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan untuk mengembangkan kepribadian individu agar lebih baik. Sedang menurut Nasution sosilogi pendidikan adalah analisis atas proses sosial dan pola-pola social yang terdapat dalam system pendidikan.
Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang otonom mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
1) Sifat umum, membahas prinsip hubungan antar manusia pada umumnya dan bukanlah orang perorangan atau daerah perdaerah. Jadi sosiologi adalah ilmu masyarakat pada umumnya dan bukanlah masyarakat tertentu saja.
2) Sifat kategoris, bahwa sosiologi menyatakan apa adanya hubungan antar manusia di dalam masyarakat dan bukan bersifat normatif. Sosiologi hannya mengungkap masalah hubungan antar manusia sebagaimana adanya.
3) Sosiologi adalah ilmu yang menggeneralisasi dan bukan mengindividualisasi, pengaruh keumuman dan tidak kekhususan, juga bersifat mengabstrak dan tidak mengkongkrit.
Obyek dan ruang lingkup sosiologi yaitu:
1) Individu dengan individu
2) Individu dengan kelompok
3) Group dengan group
4) Individu dengan masyarakat
5) Masyarakat dengan individu
6) Masyarakat dengan masyarakat
7) Percampuran kebudayaan
8) Bentuk interaksi sosial
9) Kelembagaan dan strukturnya
10) Dinamika sosial
Dapat disimpulkan bahwa sosiologi mengkaji prilaku manusia dan hubungannya dengan personal lainnya. Pada umumnya, seluruh prilaku manusia dipelajarinya melalui hubungannya dengan manusia lainya, baik di rumah, sekolah, tempat permainan, pekerjaan dan sebagainya.
2. Pandangan sosiologi terhadap manusia
Dalam pandangan sosiologi manusia adalah animal sociale (binatang yang hidup bermasyarakat). Manusia adalah makhluk social. Dia tidak dapat hidup dengan tenang tanpa interaksi dengan orang lain. Manusia mesti memiliki interaksi antara satu dengan yang lain. Dengan adanya interaksi itu maka timbullah pengaruh mempengaruhi satu sama lain pada orang atau kelompok yang mengadakan interaksi. Hingga terjadilah perubahan di dalam perasaan, pikiran, sikap, tindakan dan sebagainya.
Mengenai interaksi dapat dibedakan menjadi dua macam:
1) Interaksi langsung, yaitu terdiri atas kegiatan yang mencakup keseluruhan gerak orang yang dapat diamati di dalam tingkah laku. Misalnya , dua orang yang mengangkat meja untuk dipindahkan ke suatu tempat maka kedua orang tadi mempunyai tingkah laku (perbuatan) yang satu sama lain pengaruh mempengaruhi.
2) Interaksi syimbolis, yakni interaksi tidak langsung dalam interaksi syimbolik terdiri atas bahasa lisan ataupun gerakan badan yang semuanya itu berupa bahasa, baik lisan maupun tulisan.
Komunikasi merupakan faktor yang amat penting di dalam proses interaksi komunikasi tidak hannya berupa transportasi, pemindahan, tetapi juga berarti penyebaran perluasan. Dengan adanya reaksi maka timbullah pola tingkah laku baru, yakni tingkah laku social atau tingkah laku kelompok.

3. Implikasi sosiologi dalam pendidikan
1) Konsep-konsep sosiologi tentang manusia menjadi dasar penyelenggaraan pendidikan.
2) Masyarakat sebagai ekologi pendidikan atau sebagai lingkungan tempat berlangsungnya pendidikan.
3) Pendidikan merupakan sosialisasi atau proses menjadi anggota masyarakat yang diharapkan.
4. Implikasi sosilogi dalam pengembangan Teori pendidikan
1) Mendorong lahir dan berkembangnya sosiologi pendidikan
2) Mendorong lahir dan berkembangnya ilmu pendidikan kependudukan
3) Mendorong lahir dan berkembangnya aliran sosiologisme pendidikan

Kenyataan menunjukkan bahwa masyarakat mengalami perubahan sosial yang sangat cepat, maju dan memperlihatkan gejala desintegrastif. Perubahan sosial yang terjadi di masyarakat tentu saja mempengaruhi pendidikan, baik sebagai ilmu maupun aktivitas. Itulah sebabnya John Dewey (1859-1952) menganggap bahwa begitu esensialnya hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat. Dewey beranggapan bahwa pendidikan tumbuh di masyarakat dan masyarakat tumbuh karena adanya pendidikan. Antara keduanya terdapat hubungan yang bersifat mutual benefit, artinya saling menguntungkan bahkan merupakan suatu ikatan yang secara aksiomatik sulit dan mustahil untuk dipisahkan.
E. Pandangan Psikologi dan Implikasinya Terhadap Pendidikan
1. Pengertian Psikologi
Psikologi adalah ilmu yang berkaitan dengan proses mental, baik normal maupun abnormal dan pengaruhnya pada prilaku; ilmu pengetahuan tentang gejela dan kegiatan jiwa. Menurut Woodward dan Marquis sebagaimana yang dikutip oleh Redja Mudyahardjo psikologi adalah studi tentang kegiatan-kegiatan atau tingkah laku individu dalam keseluruhan ruang hidupnya, dari dalam kandungan sampai balita, dari masa kanak-kanak sampai masa dewasa, serta masa tua.
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa psikologi adalah sebuah ilmu yang membahas gejala kejiwaan yang tampak pada diri manusia. Dalam pembahasannya psikologi terbagi kepada psikologi perkembangan, psikologi belajar, psikologi sosial, psikologi pendidikan, psikologi wanita dan lain-lain.
2. Manusia dalam pandangan psikologi
Manusia dalam pandangan psikologi adalah individu yang belajar (Callahan dan Clark). Manusia dalam kehidupannya senantiasa belajar. Ini sesuai dengan fitrah manusia yang selalu dinamis dalam kehidupanya.. hal ini juga disebabkan jiwa manusia berkembang sejajar dengan pertumbuhan jasmani. Jiwa balita baru berkembang ssedikit sekali sejajar dengan tubuhnya yang juga masih berkemampuan sederhana sekali. Makin besar anak itu makin berkembang pula jiwanya, dengan melalui tahap-tahap tertentu akhirnya anak itu mencapai kedewasaan baik dari segi kejiwaan maupun dari segi jasmani.
Ada empat teori dalam psikologi yang mencoba menjelaskan tentang manusia, yaitu sebagai berikut:
1. Konsepsi manusia menurut psikoanalisis.
Psikoanalisis adalah aliran dalam psikologi yang memperhatikan struktur jiwa. Sigmund Freud adalah orang yang pertama kali berusaha merumuskan psikologi manusia dengan memperhatikan struktur jiwa manusia. Menurut Freud perilaku manusia merupakan hasil interaksi tiga subsistem dalam kepribadian manusia yang disebutnya ID, Ego dan Superego.
Id adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis manusia. Id bergerak berdasarkan prinsip kesenangan, ingin segera memenuhi kebutuhannya. Id bersifat egoistis, tidak bermoral dan tidak mau tahu dengan kenyataan. Id adalah tabiat hewani manusia. Sementara ego berfungsi menjembatani tuntunan-tuntunan Id dengan realitas di dunia luar. Ego-lah yang menyebabkan manusia mampu menundukkan hasrat hewaninya dan hidup sebagai wujud yang rasional. Adapun superego adalah polisi kepribadian yang mewakili dunia ideal. Superego akan memaksa ego untuk menekan hasrat-hasrat yang tidak berlainan ke alam bawah sadar. Jadi manusia dalam pandangan psikologi psikoanalisis adalah makhluk yang memiliki unsur hewani, akal dan nilai
2. Konsep manusia dalam psikologi behavioralisme
Pemikiran behaviorisme sebenarnya sudah dikenal sejak Aristoteles yang berpendapat bahwa, pada waktu lahir jiwa manusia tidak memiliki apa-apa sama seperti meja lilin yang siap dilukis oleh pengalaman. Teori behavioralisme lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena menurut mereka seluruh perilaku manusia, kecuali instingk adalah hasil belajar.f
3. Konsepsi manusia menurut Psikologi Kognitif
Psikologi ini di dasari oleh rasionalisme Imamanuel Kant, Rene Descartes dan plato. Menurut aliran ini bahwa jiwa manusialah yang menjadi alat utama ilmu pengetahuan, bukan alat indera. Menurut Lewin, perilaku manusia harus dilihat dalam konteksnya. Perilaku manusia bukan sekedar respon pada stimuli, tetapi produk berbagai gaya yang mempengaruhinya secara spontan. Lewin menyebut seluruh gaya psikologis yang memengaruhi manusia sebagai ruang hayat. Rauang hayat terdiri dari tujuan dan kebutuhan individu, semua factor yang disadarinya, da kesadaran diri.
4. Manusia menurut perspektif Psikologis Humanistik
Menurut aliran psikologi ini bahwa manusia hidup dalam dunia pengalaman yang bersifat pribadi di mana dia ( Sang Aku, Ku atau diriku) menjadi pusat. Jadi intisari dari psikologi humanism adalah bahwa pada keunikan manusia, pentingnya nilai dan makna, serta kemampuan manusia untuk mengembangkan dirinya.

3. Karakteristik manusia dalam psikologis
1) Individu yang belajar
2) Unik (ada perbedaan individual)
3) Mempunyai berbagai diri
4) Sebuah organism total
5) Mempunyai kesiapan bertindak
6) Mempunyau tugas-tugas perkembangan
7) Mempunyai berbagai kebutuhan
8) Mempunyai kecenderungan-kecenderungan umum dalam bertingkah laku
9) Mempunyai tujuan-tujuan khusus
10) Mempunyai motivator-motivator dirinya sendiri.
4. Implikasi dalam praktek pendidikan
1) Konsep-konsep psikologis tentang individu menjadi dasar pelaksanaan proses kegiatan belajar-mengajar
2) Pendidikan merupakan proses pengembangan diri (individualisasi)
3) Lahirdan berkembangnya psikologi pendidikan

F. Pandangan Islam Terhadap manusia dan Implikasinya Terhadap Pendidikan.
1. Pengertian manusia
Manusia diciptakan oleh Allah sebagai penerima dan pelaksana ajaran. Sesuai dengan kedudukannya yang mulia tersebut, Allah menciptakan manusia itu dalam bentuk fisik yang bagus dan seimbang. Sehubungan dengan ini Allah telah menegaskan dalam firman-Nya:

Artinya: sesungguhnya telah kami ciptakan manusia itu dalam sebaik-baiknya. (Q.S 95 At-tit).

Hakikat manusia dalam Islam diperkenalkan dalam tiga istilah yaitu:
a. Al-Insan, digunakan menggambarkan pada keistimewaan manusia penyandang predikat khalifah di muka bumi, sekaligus dihubungkan dengan hakikat penciptaanya. Kata ini juga menunjukkan pada proses kejadian manusia, baik proses penciptaan Adam maupun proses manusia Pasca Adam di alam rahim yang berlangsung secara utuh dan berproses.
b. Al-Basyar, secara bahasa merupakan bentuk jamak dari kata al-Basyarat yang berarti kulit kepala, wajah dan tubuh menjadi tempat tumbuhnya rambut. Pemaknaan manusia dengan al-Basyar memberikan pengertian bahwa manusia adalah makhluk biologis serta memiliki sifat-sifat yang ada di dalamnya, seperti makan, perlu hiburan, seks dan sebagainya. Kata al-Basyar ditunjukkan kepada seluruh manusia tanpa terkecuali. Penggunaan al-Basyar mempunyai makna bahwa manusia secara umum mempunyai persamaan dengan cirri pokok dari makhluk Allah lainnya secara umu seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan. Cirri pokok yang umum tersebut diantaranya adalah persamaan, di dalam dunia ini memerlukan ruang dan waktu, serta tunduk terhadapa sunnatulah
c. Kata an-Nas
Kata an-Nas menunjukkan pada hakekat manusia sebagai makhluk social (Nurchalis majid). Kata ini juga ditujukan kepada seluruh manusia tanpa melihat statusnya apakah beriman atau kafir. Kata al-Anas juga dipakaikan dalam al-Qur’an untuk menunjukkan bahwa karakteristik manusia senantiasa berada dalam keadaan labil. Meskipun telah dianugerahkan Allah SWT dengan berbagai potensi yang bisa digunakan untuk mengenal Tuhannya, namun hannya sebagian manusia yang mau mempergunakannya sesuai dengan ajaran Tuhannya. Sedangkan sebagian yang lain tidak menggunakan potensi tersebut bahkan ada yang mempergunakan untuk menentang kemahakuasaan Tuhan.
2. Potensi Dasar Manusia

Para filosof tidak pernah sependapat tentang potensi apa yang perlu dikembangkan oleh manusia. Melalui pendekatan historis, Hasan Langgulung menjelaskan bahwa di Yunani Kuno satu-satunya potensi manusia yang harus dikembangkan di kerajaan Sparta adalah potensi jasmaninya, tetapi sebaliknya dikerajaan Athena yang dipentingkan adalah kecerdasan otaknya. Beberapa ahli filsafat pendidikan Islam telah mencoba mengklasifikasikan potensi manusia, diantaranya yaitu menurut KH. A. Azhar Basyir, bila manusia ditinjau dari substansinya, maka manusia terdiri dari potensi materi yang berasal dari bumi dan potensi ruh yang berasal dari Tuhan. Pendapat senada juga dikemukakan oleh Syahminan Zaini yang menyatakan bahwa unsur pembentuk manusia terdiri dari tanah dan potensi rohani dari Allah. Dalam redaksi lain, Muhaimin dan Abdul Mujib berpendapat bahwa pada hakekatnya manusia terdiri dari komponen jasad (jasmani) dan komponen jiwa (rohani), menurut mereka komponen jasmani berasal dari tanah dan komponen rohani ditiupkan oleh Allah.31 Demikian pula kesimpulan yang diambil Abuddin Nata berdasarkan pendapat para ahli filsafat pendidikan, bahwa secara umum manusia memiliki dua potensi, yaitu potensi jasmani dan potensi rohani. Dari pendapat yang dikemukakan di atas, ternyata potensi manusia dapat diklasifikasikan kepada potensi jasmani dan potensi rohani.

a. Potensi Jasmani
Secara jasmaniah (fisik), manusia adalah makhluk yang paling potensial untuk dikembangkan dibandingkan dengan makhluk lainnya. Manusia dianugerahi rupa dan bentuk fisik yang bagus serta memiliki kelengkapan anggota tubuh untuk membantu dan mempermudah aktivitasnya. Proses penciptaan manusia mulai nutfah (air mani), kemudian .alaqah (segumpal darah), mudghah (segumpal daging), .izam (tulang belakang) dan lahm yang membungkus .izam atau membentuk rangka yang menggambarkan bentuk manusia, merupakan kesempurnaan manusia secara fisik.
Untuk mengetahui potensi jasmani, Abuddin Nata memperkenalkan kata kunci yang diambil dari al-Qur.an, yaitu al-basyar. Menurutnya, kata basyar dipakai untuk menyebut semua makhluk. Basyar merupakan bentuk jamak dari akar kata basyarah yang artinya permukaan kulit kepala, wajah dan tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut. Oleh karena itu kata mubasyarah diartikan musalamah yang artinya persentuhan antara kulit laki-laki dan kulit perempuan. Disamping itu kata mubasyarah diartikan sebagai al-liwath atau al-jima. yang artinya persetubuhan. Manusia dalam pengertian basyar adalah manusia yang seperti tampak pada lahiriahnya, mempunyai bangunan tubuh yang sama, makan dan minum dari bahan yang sama yang ada di alam ini, dan oleh pertumbuhan usianya, kondisi tubuhnya akan menurun, menjadi tua dan akhirnya ajalnya akan menjemputnya.

Dari penjelasan di atas, penulis menyimpulkan bahwa potensi jasmani yang ada pada manusia merupakan segala daya manusia yang berhubungan dengan aktifitas fisiknya sekaligus kebutuhan lahiriahnya, karena manusia secara fisik akan tumbuh optimal bila semua anggota tubuh yang dikaruniakan oleh Allah swt berfungsi secara baik. Keterkaitan itu membawa implikasi bahwa setiap manusia harus mampu mengembangkan daya-daya yang berhubungan dengan eksistensi jasmaniahnya.
b. Potensi Rohani

Manusia merupakan makhluk yang istimewa dibanding makhluk lainnya, karena disamping memiliki dimensi fisik yang sempurna, ia juga memiliki dimensi roh ini dengan segala potensinya. Jika potensi jasmani diketahui dari kata basyar, maka untuk mengetahui potensi ruhani dapat dilihat dari kata al-insan. Kata insane mempunyai tiga asal kata. Pertama, berasal dari kata anasa yang memiliki arti melihat, mengetahui dan minta izin. Yang kedua berasal dari kata nasiya yang berarti lupa. Yang ketiga berasal dari kata al-uns yang artinya jinak.

Sedangkan Quraish Shihab menganalisis kata insan hanya terambil dari kata uns yang berarti jinak dan harmonis. Menurutnya, pendapat di atas, jika dipandang dari sudut pandang al-Qur.an lebih tepat dari yang mengatakan bahwa kata insane diambil dari kata nasiya (lupa) atau dari kata nasa-yanusu (berguncang). Kata insane juga digunakan al-Qur.an untuk menunjuk kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, yaitu jiwa dan raga.
Manusia sebagai makhluk psikis (al-insan) memiliki potensi seperti fitrah, qalb, nafs, dan akal. Karena potensi itulah manusia menjadi makhluk yang tinggi martabatnya. Dengan demikian potensi ruhani manusia terdiri dari beberapa unsure pokok, yaitu:
a. Fitrah
Dari segi bahasa fitrah diambil dari kata al-fathr yang berarti belahan dan dari makna ini lahir makna-makna lainnya antara lain penciptaan atau kejadian. Fitrah manusia adalah kejadiannya sejak semula atau bawaan sejak lahirnya.42 Sedangkan Muhaimin dan Abdul Mujib memberikan penjelasan rinci tentang arti fitrah yaitu:
1) Fitrah berarti suci (thur), yang berarti kesucian dalam jasmani dan rohani.
2) Fitrah berarti mengakui keesaan Allah swt (tauhid).
3) Fitrah berarti potensi dasar manusia sebagai alat untuk mengabdi dan
ma.rifatullah.
4) Fitrah berarti tabiat alami yang dimiliki manusia (human nature).
Dalam pemahaman potensi fitrah inilah al-Ghazali meneliti keistimewaan potensi fitrah yang dimiliki manusia, sebagai berikut:
a) Beriman kepada Allah
b) Kemampuan dan kesediaan untuk menerima kebaikan dan keturunan
atau dasar kemampuan untuk menerima pendidikan dan pengajaran.
c) Dorongan ingin tahu untuk mencari hakekat kebenaran yang berwujud
daya berfikir.
d) Dorongan biologis berupa syahwat (sensual pleasure), ghadhab, dan
tabiat (insting).
Dari uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa fitrah merupakan potensi dasar yang dimiliki manusia sejak ia dilahirkan berupa kecenderungan kepada tauhid serta kesucian jasmani dan rohaninya, dan dalam Islam diakui bahwa lingkungan berpengaruh dalam perkembangan fitrah menuju kesempurnaan dan kebenaran. Oleh karena itu, potensi yang dimiliki manusia harus dikembangkan dan dilestarikan.
b. Roh
Roh merupakan kekuatan yang dapat membebaskan diri dari batas-batas materi. Kekuatan jasmani terikat dengan wujud materi dan inderanya, sedangkan kekuatan roh tak satupun materi yang dapat mengikatnya. Ia mempunyai hokum sesuai dengan penciptaan Allah padanya, yakni berhubungan dengan kelanggengan wujud azali.44 Oleh karena itu al-Kindi mengindentifikasi roh sebagai sesuatu yang tidak tersusun, simpel, dan sederhana tetapi mempunyai arti yang penting sempurna dan mulia. Substansinya berasal dari substansi Tuhan, hubungannya dengan Tuhan sama dengan hubungannya dengan cahaya dan matahari.


Al-Ghazali membagi pengertian roh kepada dua, yaitu:
1) Roh yang bersifat jasmani
Roh yang merupakan bagian dari jasmani manusia, yaitu zat yang amat halus bersumber dari ruangan hati (jantung) yang menjadi pusat semua urat (pembuluh darah), yang mampu menjadikan manusia hidup dan bergerak serta merasakan berbagai rasa. Roh dapat diumpamakan sebagai lampu yang mampu menerangi setiap sudut organ, inilah yang sering disebut sebagai nafs (jiwa).
2) Roh yang bersifat rohani
Roh yang merupakan bagian dari rohani manusia mempunyai ciri halus dan ghaib, dengan roh ini manusia dapat mengenal Tuhannya, dan mampu mencapai ilmu yang bermacam-macam. Disamping itu roh ini dapat menyebabkan manusia berprikemanusiaan, berakhlak yang baik dan berbeda dengan binatang. Dari uraian di atas, penulis berpendapat walaupun roh memiliki karakteristik yang halus, abstrak, rahasia dan ghaib, tetapi roh dapat diidentifikasi melalui sifatnya. Roh yang bersifat jasmani merupakan zat yang menentukan hidup dan matinya manusia, sementara roh yang bersifat rohani merupakan substansi manusia yang berasal dari substansi Tuhan, sehingga memiliki potensi untuk berhubungan dengan tuhan atau mengenal Tuhannya.

d. Qalb
Hati dalam bahasa Arabnya disebut qalb. Menurut ilmu biologi, qalb itu segumpal darah yang terletak di dalam rongga dada, agak ke sebelah kiri, warnanya agak kecoklatan dan berbentuk segitiga. Tetapi yang dimaksud di sini bukanlah hati yang berupa segumpal darah dan bersifat materi itu, melainkan hati yang bersifat immateri. Tentang hati yang bersifat immateri ini, al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin mengidentifikasikan qalb menjadi rahasia setiap manusia dan merupakan anugerah Allah yang paling mulia.
Qalb mempunyai nama-nama lain yang disesuaikan dengan aktivitasnya, ia dapat dikatakan sebagai dhomir karena sifatnya yang tersembunyi, fuad karena sebagai tumpuan tanggung jawab manusia, kabid karena berbentuk benda, luthfu karena sebagai sumber perasaan halus, karena qalb suka berubah-ubah kehendaknya, serta sirr karena bertempat pada tempatnya yang rahasia dan sebagai muara bagi rahasia manusia.
Dengan demikian, potensi yang dimiliki qalb tergantung kepada karakteristik qalb itu sendiri yang berubah-ubah, sehingga dalam penjelasan selanjutnya tentang potensi qalb ini, Dr. Ahmad Mubarak menguraikan kandungan qalb yang memperkuat potensi-potensi itu. Beliau menyebutkan berbagai kondisi qalb yang berubah-ubah, yaitu penyakit, perasaan takut, getaran, kedamaian, keberanian, cinta dan kasih sayang, kebaikan, iman, kedengkian, kufur, kesesatan, penyesalan, panas hati, keraguan, kemunafikan, dan kesombongan.
e. Nafs
Dalam konteks rohani manusia, yang dimaksud dengan nafs adalah kondisi kejiwaan setiap manusia yang memiliki potensi berupa kemampuan menggerakkan perbuatan yang baik maupun yang buruk. Al-Ghazali membagi nafs kepada tiga tingkatan, yaitu:
1) Nafs tingkatan utama, meliputi:
a) Nafs Mardliyah, yaitu nafs yang cenderung melaksanakan petunjuk, guna
memperoleh ridho illahi.
b) Nafs Rodliyah, yaitu nafs yang cenderung kepada sifat ikhlas tanpa pamrih atas aktivitas yang dilakukannya.
c) Nafs Muthmainnah, yaitu nafs yang cenderung kepada keharmonisan dan
ketenangan.
d) Nafs Kamilah, yaitu nafs yang mengarah kepada pada tingkat kesempurnaan.
e) Nafs Mulhamah, yaitu nafs yang memiliki keutamaan dalam bertindak dan menjauhi perbuatan dengki, rakus dan iri hati.

2) Nafs Lawwamah, yaitu nafs yang mencerminkan sifat-sifat insaniyah.
3) Nafs Amarah, yaitu nafs yang mencerminkan sifat-sifat hayawaniyah dan bahamiyah (kehewanan dan kebinatangan).


Dalam ensiklopedi Indonesia, ditampilkan pula ketujuh konsep sebagaimana
pendapat Al-Ghazali di atas dengan menggunakan tiga kelompok. Kelompok pertama adalah nafs amarah yang memiliki ciri-ciri dorongan rendah yang bersifat jasmaniah seperti loba, tamak serta cenderung menyakiti hati orang lain. Kelompok kedua adalah nafs lawwamah yang memiliki ciri-ciri sudah menerima nilai-nilai kebaikan tetapi masih cenderung kepada dosa, walaupun akhirnya menyesalinya. Kelompok ketiga adalah nafs-nafs yang berciri baik dan luhur, yaitu: mardliyah, kamilah, mulhamah, muthmainnah, dan radliyah, yang cenderung kepada sifat-sifat keutamaan, kesempurnaan, kerelaan, penyerahan kepada tuhan dan mencapai ketenangan jiwa. Walaupun dalam Al-Qur.an hanya ada tiga macam nafs yang disebutkan jelas jenisnya, pertama nafs amarah (Q.S. Yusuf: 53), kedua nafs lawwamah (Q.S. al-Qiyamah: 2) dan nafs muthmainnah (Q.S. Al-Fajr: 27). Dari uraian di atas, penulis mengambil kesimpulan bahwa nafs adalah kondisi kejiwaan setiap menusia yang telah diilhamkan Allah kepadanya kebaikan dan keburukan, sehingga nafs memiliki potensi berupa kemampuan untuk menggerakkan perbuatan yang baik dan buruk. Potensi nafs tersebut ditentukan dari kualitas nafs itu sendiri, jika kualitas nafs itu baik, maka nafs memiliki potensi untuk menggerakkanperbuatan baik, sedangkan jika kualitas nafs itu buruk, maka nafs memiliki potensi untuk menggerakkan perbuatan buruk.
f. Akal
Manusia dibedakan dengan makhluk lainnya karena manusia dikarunia akal
dan kehendak-kehendak (iradah). Akal yang dimaksud adalah berupa potensi, bukan anatomi. Akal memungkinkan manusia untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, mengerjakan yang baik dan menghindari yang buruk. Dengan akal manusia dapat memahami, berpikir, belajar, merencanakan berbagai kegiatan besar, serta memecahkan berbagai masalah sehingga akal merupakan daya yang amat dahsyat yang dikaruniakan Allah kepada manusia.
Menurut Ahmad D. Marimba, akal bermanfaat dalam bidang-bidang berikut
ini:
1) Pengumpulan ilmu pengetahuan
2) Memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi manusia
3) Mencari jalan-jalan yang lebih efisien untuk memenuhi maksud tersebut.
Tetapi pada keadaan yang lain, sebaliknya akal dapat pula berpotensi untuk:
a) Mencari jalan-jalan ke arah perbuatan yang sesat
b) Mencari alasan untuk membenarkan perbuatan-perbuatan yang sesat itu
c) Menghasilkan kecongkakan dalam diri manusia bahwa akal itu dapat mengetahui segala-galanya. 53
Demikianlah gambaran tentang potensi akal yang pada intinya adalah bahwa
Allah memberikan suatu karunia besar dan maha dahsyat bagi manusia, sebuah daya (kekuatan) yang dapat membawa manusia kepada kebaikan dan manfaat, sebaliknya juga dapat merusak dan membawa madharat. Potensi akal yang dimiliki manusia menjadikannya berbeda dengan makhluk lainnya di muka bumi ini.
3. Kedudukan manusia
a. Manusia sebagai makhluk yang mulia
Untuk mempertahankan kedudukannya yang mulia tersebut, Allah melengkapi manusia dengan akal dan perasaan yang memungkinkannya menerima dan mengembangkan ilmu pengetahuan, dan membudayakan ilmu yang dimilikinya. Ini berarti bahwa kedudukan manusia sebagai makhluk yang mulia itu adalah karena (1) akal dan perasaan, (2) ilmu pengetahuan dan (3) kebudayaan, yang seluruhnya dikaitkan kepada pengabdian pada pencipta. Inilah yang membuat manusia sebagai makhluk Allah yang istimewa. Manusia begitu komplit dibekali oleh Allah. Manusia bisa lebih mulia dari malaikat kalau memiliki ketaatan dan keimanan yang kuat, namun manusia bisa lebih hina dari hewan apabila nafsu menjadi ikutannya.
Allah sendiri telah menegaskan dalam firman-Nya:



Artinya: …….Allah meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu pengetahuan itu. (Q.S al-Mujadalah)
b. Manusia sebagai khalifah di bumi
Allah menciptakan bumi dalam keadaan seimbang dan serasi. Keteraturan alam dan kehidupan ini dibebankan kepada manusia untuk memelihara dan mengembangkannya demi kesejahteraan hidup mereka sendiri. Tugas itu dimulai oleh manusia dari dirinya sendiri, kemudian istri dan anak serta keluarganya, tetangga dan lingkungannya, masyarakat dan bangsanya. Untuk itu ia harus mendidik diri dan anaknya serta membina kehidupan keluarga dan rumah tangganya sesuai dengan ajaran Islam. Ia harus memelihara lingkungan dan masyarakatnya, mengembangkan dan mempertinggi mutu kehidupan bersama, kehidupan bangsa dan negara. Itulah tugas khalifah Allah dalam mengurus dan memelihara alam semesta ini.
Allah berfirman:


Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri dan keluargamu dari api neraka……..(Q.S At-Tahrim :6)
c. Manusia sebagai hamba Allah ( ‘abd Allah)
Sebagai hamba Allah manusia tidak terlepas dari kekuasaannya, karena manusia mempunyai fitrah (potensi) untuk beragama. Mulai dari manusia purba sampai ke manusia modern sekarang, mengakui bahwa di luar dirinya ada kekuasaan. Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya:




Artinya: maka hadapkanlah wajahmu kepada agama (Allah), tetaplah pada fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah (agama) itu tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. ( Q.S Ar-Rum :30).
Berdasarkan ayat di atas, jelaslah bahwa bagaimanapun primitifnya suatu suku bangsa manusia, mereka akan mengakui adanya Zat Yang Maha Kuasa di luar dirinya.
Dalam agama Islam lebih ditegaskan lagi bahwa penciptaan manusia hannyalah untuk mengabdi kepada Allah, sebagaimana firman-Nya:



Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku ( Q.S Azzari’at: 56)
Untuk tahu bagaimana menyembah Allah yang benar, dibutuhkan peran rasul. Manusia tidak dapat bertauhid dengan benar tanpa perantara rasul. Dengan bimbingan rasul manusia mengetahui siapa Tuhan yang berhak disembah. Bila kewajiban manusia sebagai hamba Allah telah dilaksanakan, maka segala kasih sayang Allah tercurah. Dunia akan makmur dan damai. Seorang hamba bila jauh dari Allah, maka Rabnya akan jauh darinya. Bila seorang hamba berjalan menuju Allah, maka sang Khaliqpun akan berlari mendekatinya. Begitulah Allah dengan segala sifat Rahman dan Rahim-Nya.

4. Hubungan Kedudukan Manusia dengan Pendidikan Islam
Bila dimensi ini dikembangkan dalam kajian pendidikan, maka dalam proses mempersiapkan generasi penerus estafet kekhalifahan yang sesuai dengan nilai-nilai Ilahiyah, maka pendidikan yang ditawarkan harus mampu memberikan dan membentuk pribadi peserta didiknya dengan acuan nilai-nilai Ilahiyah. Dengan penanaman ini, akan menjadi panduan baginya dalam melaksanakan amanat Allah di muka bumi. Kekosongan akan nilai-nilai ilahiyah, akan mengakibatkan manusia akan bebas kendali dan berbuat sekehendaknya.
Untuk mewujudkan manusia sebagai khalifah, makhluk yang mulia dan sebagai hamba Allah, tiada lain jalan yang ditempuh adalah pendidikan. Ini menjadi perhatian bagi pemegang kebijakan untuk menyusun kurikulum yang bisa mengembangkan seluruh dimensi yang menyelubungi manusia. Jangan sampai ada potensi-potensi manusia yang tidak tersentuh oleh pendidikan.
Namun tidak semua pendidikan dapat mengemban tugas dan fungsi manusia tersebut. oleh karena itu, diperlukan penataan ulang konsep pendidikan yang ditawarkan sehingga lebih berperan bagi pengembangan manusia yang berkualitas, tanpa menghilangkan nilai-nilai fitri yang dimilikinya. Oleh karena itu, konsep pendidikan yang dapat dikembangkan adalah konsep pendidikan Islam.
G. Kesimpulan
Manusia adalah pemegang peran untuk memakmurkan dunia. Manusia adalah salah satu makhluk Allah yang paling ideal. Bagaimana tidak, bila dibandingkan dengan Malaikat yang Cuma punnya akal dan hewan hannya punnya nafsu, manusia justru pada dirinya terdapat paduan akal dan nafsu. Sehingga manusia adalah makhluk yang unik. Di satu sisi dia dianggap hewan yang berbicara, disisi lain juga dikatakan sebagai makhluk yang berbudaya dan punnya jiwa sosial. Walaupun demikian sampai akhir ini kajian tentang manusia tiada habis-habisnya, karena memang manusia adalah makhluk unik. Sehingga dari berbagai disiplin ilmu telah dicoba mengungkapkan hakikat manusia.
Dari berbagai disipilin ilmu tersebut, belum tergambar secara utuh akan hakikat manusia. Hannya Islamlah yang lebih mendekati akan hakikat manusia yang terangkup pada tiga hal, yaitu:
1. Manusia adalah makhluk yang punnya jiwa sosial ( an-Nas)
2. Manusia adalah makhluk yang memiliki sisi biologis ( al-Basyar)
3. Manusia adalah makhluk yang memiliki dimensi psikis dan intelegensi ( al-Insan)
Untuk mengembangkan dimensi manusia tersebut perlu kiranya disusun suatu program pendidikan yang mengakomodir seluruh potensi manusia tersebut. sehingga dengan demikian akan tercapailah manusia yang berbudi luhur, cakap dan cerdas.







DAFTAR PUSTAKA
Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996
Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Al Ma.arif, 1989
Ali Abdul Halim Mahmud, Islam dan Pembinaan Kepribadian, Jakarta: Akademika
Pressindo, 1995
Barmawie Umary, Materi Akhlak, Solo: Ramadhani, 1989
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Jakarta: PT Syaamil Cipta Media
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2002
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2002
Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan; Suatu Analisa Psikologi dan Pendidika Jakarta: Pustaka al-Husna, 1995
Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1995
Ibn Manzur, Lisan al-Arab, Mesir: Daar al-Mishriyyah, 1968
Muhammad Syamsudin, Manusia dalam Pandangan KH. A. Azhar Basyir, Yogyakarta:Titian Ilahi Press, 1997
M. Quraish Shihab, Wawasan al-Quran, Bandung: Mizan, 1996
Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya,Bandung: Tri Genda Karya, 1993
Ira Purwitasari, Perspektif Psikologi Tentang manusia, Google.com, 11 September 2009
John E. Talbott. Education in Intellectual and Social History, dalam Felix Gilbert & Stephen R. Graubard, ed. Historical Studies Today. 1992. New York: W.W.

Made Pidarta, Landasan Kependidikan, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2001
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia,2008
Redja Mudyahardjo, Pengantar Pendidikan, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002
Syamsul Bahri Yunus, Sosiologi Sebagai Kajian Dasar, Jakarta:Yayasan Nuansa Madani, 2000
Syahminan Zaini, Penyakit Rohani Pengobatannya, Jakarta: Kalam Mulia, 1996
S. Nasution, Sosiologi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 1999)
Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara,1980
Williiam A. Haviland. Antropologi. Peterj: RG Soekarjo. Jakarta: Erlangga. 1988




MAKALAH
Berbagai Pandangan Tentang Manusia
dan Implikasinya Terhadap Pendidikan

Dipresentasikan pada Perkuliahan Ilmu Pendidikan Islam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

dua minggu di LPJ

dua minggu di LPJ
Di Hotel Ceria Buana